Berwisata ke kota Bukittinggi, tidak akan mengecewakan siapa saja. Lihat saja beberapa tempat yang bisa kita datangi berikut:
JAM GADANG
JARAK DARI KOTA : 0 Km

Jam Gadang
Jam yang merupakan peninggalan sejarah ini , berdiri megah di tengah taman sabai nan aluih di depan Istana Bung Hatta atau Istana Tri Arga. Monument ini dibangun pada tahun 1926 pada masa pemerintahan Controleur Rook Maker, jam merupakan hadiah dari Ratu Belanda pada masa itu, atas keberhasilan beliau dalam Kepemerintahan. Bagunan ini dirancang oleh Putra Minangkabau Jazid ST. Gigi Ameh, dengan ketinggian 26 meter. Dan anak Roocker Meker yang berumur 6 tahun pada waktu itu meletakkan batu pertama.yang menghabiskan dana 3000 golden.
Pada waktu pertama kalinya monument ini dibuat seperti kubah yang pada bagian atasnya diletakkan sebuah patung ayam, yang ,melukiskan anak nagari yang belum bisa melihat jam. Yang digunakan untuk melihat waktu hari telah siang hanyalah kokok ayam diwaktu pagi, dan pada jaman penjajahan Jepang atapnya berubah dengan berbentuk klenteng dan ketika Indonesia merdeka berubah merupa gonjong Rumah Adat Minangkabau. Salah satu keunikan Jam Gadang adalah angka Romawi empat tidak ditulis sesuai dengan angka romawi sebenarnya. (IIII).
Jam Gadang merupakan lambang Kota Bukittinggi ini dikelilingi oleh taman bunga, pohon pelindung dan bangku tempat menikmati keindahan, Jam Gadang bias dikatakan alun-alun kota.
Dari Puncak Jam Gadang kita dapat menikmati dan meyaksikan betapa indahnya alam sekitar Bukittinggi yang dihiasai oleh Gunung Merapi, Singgalang dan Ngarai Sianok. Dan selain itu disekitar Jam Gadang terdapat Istana Bung Hatta, Balai Sidang Hatta dan Pasar Atas yang merupakan pusat perbelanjaan barang souvenir, cendramata dan lain sebagainya. Read more »
March 21, 2009
Posted by
Rieko Kristian |
Minangkabau, Sumatera Barat |
bukittinggi, pariwisata, Sumatera Barat, wisata |
2 Comments
Padang Panjang,-
Wisata Kereta Api saat ini telah menjadi trend dunia, apalagi kereta api wisata “Mak Itam” yang beroperasi hanya ada dua di dunia, satu di Swiss, dan satu lagi di Sawahlunto. Sumbar merupakan destinasi unggulan wisata di wilayah Indonesia bagian barat. Read more »
March 20, 2009
Posted by
Rieko Kristian |
Minangkabau, Sumatera Barat |
padang panjang, padangpanjang, pariwisata, sumateraa barat |
No Comments Yet
PADANG–Perjuangan dan semangat Bagindo Aziz Chan dalam mempertahankan Republik Indonesia, harusnya menjadi sumber motivasi bagi seluruh masyarakat. Jiwa-jiwa kepatriotan dan kepahlawanan perlu ditanamkan sedini mungkin, baik melalui lembaga formal maupun nonformal.
Ini dikatakatan Wali Kota Padang, Fauzi Bahar dalam sambutannya sebagai inspektur upacara peringatan gugurnya Pahlawan Nasional Bagindo Aziz Chan ke-61 di Lapangan RTH Imam Bonjol, Sabtu (19/7). Dikatakan Fauzi, 19 Juli merupakan momentum sejarah yang tidak mungkin akan terlupakan, khususnya bagi masyarakat Kota Padang.
Sebab pada tanggal tersebut, terjadi peristiwa heroik, gugurnya Wali Kota Padang yang ke-2 yakni Bagindo Aziz Chan. Semasa hidupnya lanjut Fauzi, Aziz Chan telah berjuang sejak mulai dari mahasiswa sampai ditunjuk menjadi Walikota Padang (15 Agustus 1946-19 Juli 1974.
“Beliau adalah Pamong masyarakat yang tidak kenal lelah, pemberani, gigih, dekat dengan masyarakat, serta pantang menyerah demi mempertahankan kehormatan bangsa dan negara,” ungkap Fauzi dalam upacara yang dihadiri anggota keluarga Bagindo Aziz Chan, Mantan Wali Kota Padang, Zuiyen Rais, Ketua DPRD Padang, Jajaran Kodim, unsur Muspida Kota Padang, serta siswa-siswa kota Padang.
Aziz Chan lahir 30 September 1910 di Kabupaten Pariaman. Anak ke empat dari pasangan Bagindo Montok dan Djamilah ini menikmatinya masa kecilnya sebagaimana lazimnya anak laki-laki pada umumnya. Namun suatu sikap yang menonjol darinya disiplin diri, amanah, cerdas, serta suka membela teman-temannya yang lemah.
Setelah menamatkan AMS-B di Betawi, Bagindo Aziz Chan memasuki gerakan politik melalui PSII dan dilanjutkan ke Penyadar bersama Haji Agus Salim. Untuk biaya hidup sehari-hari Bagindo Aziz Chan mengajar di beberapa sekolah partikelir.
Beliau menikah dengan seorang gadis teman sekolahnya yang kemudian diboyong ke Sumatera Barat. Selama di Sumatera Barat ia pernah mengajar di Islamic College, Normal Islam Padang, Balai Pendidikan PSII Batu Hampar dan MIK Bukit Tinggi.
Pada awal pembentukan Pemerintahan Republik Indonesia di Sumatera Barat, ia aktif pada Komite Nasional Sumatera Barat. Kemudian terpilih menjadi anggota Dewan Perwakilan Sumatera. Ketika di Dewan Perwakilan Sumatera inilah beliau ditunjuk menjadi Wali Kota Padang.
Sebelum upacara, terlebih dahulu digelar drama kolosal tentang Aziz Chan, menjelang tertembaknya di kawasan Nanggalo. Sedangkan setelah penutupan, selain menyalami seluruh keluarga Aziz Chan yang datang, Wali Kota Padang, yang juga berencana mencalonkan diri pada Pilkada tahun ini juga memberikan hadiah pada pemenang lomba napak tilas jejak perjuangan Bagindo Aziz Chan.
Di samping itu juga diserahkan penghargaan kepada tokoh masyarakat dan warga yang berjasa. Di antaranya, Sumadi Gunawan memperoleh penghargaan sebagai tokoh perindustrian dan perdagangan. Darwi Loyang sebagai tokoh kesenian, H Martias Dt RS tokoh adat, Dr H Duski Samad Mag tokoh pesantren ramadhan, Hj Sarlinawati Akbar SPd tokoh silaturrahmi antar pengajian, Prof Dr H Salmadanis MA tokoh agama, Maiagus Nasir Sag untuk tokoh zakat, serta Febri Azharsyah SE sebagai tokoh penanggulangan Bencana. (***)
Sumber: Situs Resmi Pemkot Padang
July 27, 2008
Posted by
chandadot |
Minangkabau, Sumatera Barat |
baginda aziz chan, padang, Sumatera Barat |
No Comments Yet
Warga Minang Ditantang Tunjukkan Kearifan Budaya
Padang, Kompas - Masyarakat Minangkabau yang dikenal memiliki kearifan budaya yang luhur ditantang untuk menampilkan kebudayaan itu demi memecahkan persoalan bangsa yang kompleks. Persoalan korupsi, perbedaan antara kata dan tingkah laku, serta perkembangan mentalitas menerabas ingin cepat kaya juga ditantang untuk dipecahkan dengan kearifan lokal.
Demikian salah satu isi pidato kebudayaan Prof Dr Ahmad Syafi’i Maarif, Sabtu (29/12) di Taman Budaya Padang , yang diselenggarakan oleh Dewan Kesenian Sumatera Barat.
Menurut dia, masyarakat Minangkabau mempunyai sejumlah ungkapan yang sarat makna, mulai dari berbagai petatah-petitih hingga gurindam. Namun, berbagai produk kearifan budaya ini belum dimanfaatkan secara optimal untuk mengatasi persoalan bangsa, seperti sulitnya mencari orang jujur, amanah, dan dipercaya.
Persoalan ini, lanjut Syafi’i, juga pernah diulas antropolog Koentjaraningrat dalam penelitiannya tahun 1970. Hasil penelitian itu antara lain mengungkapkan bahwa masyarakat Indonesia, terutama usahawan, ingin meraup keuntungan sebesar-besarnya tanpa memerhatikan proses. “Persoalan ini terus berlangsung hingga sekarang,” kata Syafi’i, kelahiran Sumpur Kudus, Kabupaten Sawahlunto Sijunjung, itu.
Syafi’i melihat belum ada keberanian untuk bersikap melawan sifat yang sudah mengurat-akar di masyarakat secara umum. “Minangkabau, negeri elok, sudah lama menantikan anak-anaknya agar berani menyimpang dari pola umum yang korup, yang sedang melilit batang tubuh Indonesia sekarang, tetapi alangkah sukarnya,” kata mantan Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah itu.
Kendati sulit, Syafi’i mengatakan, perlawanan harus tetap dilakukan. Salah satu yang dibutuhkan adalah ada stamina spiritual yang tidak boleh kendur.
Kultur berdebat
Di sisi lain, Syafi’i juga melihat historis kekuatan masyarakat Minangkabau, yang terletak pada kemampuan berdebat, bahkan di forum dunia dalam upaya membela martabat bangsa dari segala pelecehan dan pencibiran. Sayangnya, kemampuan diplomasi itu semakin luntur.
“Kita tidak lagi memiliki kemampuan diplomasi yang tangguh, seperti dulu diperlihatkan Agus Salim, Hatta, Sjahrir, Soedjatmoko, Adam Malik, Roem, LN Palar, Mochtar Kusumaatmadja, dan nama-nama lain. Orang Minang yang dikenal jago bersilat lidah dan terkenal dengan bidal ’takilek ikan dalam aie, alah tantu jantan batinonyo’ atau ’alun takilek alah tabayang’ (terlintas ikan dalam air, sudah tentu jantan betinanya, atau belum terlihat sudah terbayang) merupakan modal utama untuk berdebat dengan penuh percaya diri,” katanya.
Menurut Syafi’i, kearifan lokal yang dikawinkan dengan unsur budaya rantau inilah yang melahirkan diplomat-diplomat andal untuk bersilat lidah di forum internasional. (ART/NAL)
Sumber: www.kompas.com/ 31 Desember 2007
December 31, 2007
Posted by
Rieko Kristian |
Minangkabau |
|
1 Comment